Senin, 16 Februari 2015

Gejolak Bumi

Kencang
Bergetar
Ribut
Padam

Tahukah kau?
Dengarkah kau?
Rasakan......
Bumi menangis

Wahai manusia bumi
Mengapa engkau hanya terdiam?
Kopi yang hangat kau sanjung
Bahagia semesta kau lindung

Wahai akar yang bergejolak
Disini kau tak tahu
Bumi murka pada sang sembrana
Bumi menangis dan kita hanya terdiam

Sadarlah kita!
Aku hanya merangkak dengan dusta
Lumpuh dan padam seakan tak berdaya
Jiwa tak berarti adanya

Antara cinta dan menunggu bus?



Seseorang memberi tahuku cinta itu seperti menunggu sebuah bus. Bus yang datang bukan lah yang kau harapkan. Ketika bus yang kau harapkan datang, akan ada hambatan yang menghalangimu untuk menaikinya. Namun akhirnya aku sadar bahwa itu bukan hanya sekedar menunggu. Aku juga belajar bahwa saatnya bus itu tiba, kau harus menentukan untuk menaikinya atau tidak.
Aku mulai tersadar dan telah terbangun dari perjalanan semuku bersama gadis pujaanku. Aku telah membuka mata setelah sekian lama terpejam menikmati malam indahku, berkelana menanti senja kala siang bangunkanku. Gadis tempat ku menggantung asa telah lama pergi. Ia tak pernah tahu bahwa aku masih tetap mengimpikannya dan berharap kepadanya.
“Ah apa yang sudah ku pikirkan. Aku tak berhak lagi memikirkannya apalagi masih berharap kepadanya. Aku sudah memiliki Dinda”
Ya, Dinda. Gadis yang ku miliki sekarang. Memang tak sebaik dia, namun Dinda lebih mampu mengerti keadaanku walaupun ia bukanlah bus yang aku harapkan. Terkadang, aku masih terbayang olehnya walaupun aku sedang bersama Dinda. Seperti kejadian malam itu.
“Orang bilang, ikan bakar di resto ini andalan loh, Na......”
“Na? Nana?”
“Maaf aku..........”
“Aku mengerti” Dinda tetap tersenyum kepadaku. Aku merasa bodoh.
Aku tidak pernah berniat untuk menyakiti perasaannya. Namun apa dayaku ketika hati mulai menjerit merindukan sosok Nana yang dulu selalu hadir mengisi hariku dan tanpa ku sadari nama itu sering keluar dari bibirku. Dinda tetap tersenyum dan hanya tersenyum. Walaupun ku tau matanya ingin sekali berbicara kepadaku, “Apakah aku tak seindah dia di matamu? Sampai begitu sulit namanya hilang dari kehidupanmu?”
Terkadang aku merasa jahat ketika aku masih membuat Dinda bertahan kepadaku. Namun aku akan lebih jahat ketika aku meninggalkannya tanpa alasan. Berbagai cara aku lakukan untuk membuatnya meninggalkanku. Bukan karena tak sayang, aku hanya tak ingin lagi menyakiti perasaannya yang memang tak pantas ia berikan kepadaku.
Penyesalan itu muncul, kala aku mengingat kejadian 2bulan lalu. Mengapa aku harus memintanya menjadi kekasihku jika aku belum bisa membuang Nana jauh dari kehidupanku.
Dering handphone ku membuyarkan lamunanku.
“Halo”
“Halo sayang, sudah bangun ya? Tumben”
Dinda rupanya. Dia tak biasa menelfonku sepagi ini kecuali jika memang ada hal penting yang harus ku kerjakan.
“Hehe...iya nih. Mimpi kamu. Tadinya mau telfon eh keduluan kamu” Ah aku harus berbohong lagi. Maafkan aku.
“Kamu pagi buta udah pinter nge gombal aja sih. Karena tanggal 1 ya?”
Astaga hari ini tanggal 1. Aku hampir melupakannya, ya...hari ini adalah tanggal tepat hubungan kami berumur 2 bulan.
“Ketahuan lagi deh, kamu inget banget sih” balasku berbohong lagi.
“Mana bisa aku lupa hehe. Hari ini jalan yuk? Lama juga kan kita nggak ketemu?”
“Boleh. Kamu mau jalan kemana, Na?” Bodoh! Lagi-lagi dengan tak sengaja aku mengucapkan nama itu.
“Nana? Di hari kita?”
“Sayang maafkan aku. Aku tak........”
“Cukup. Aku mendadak ada acara pagi ini. Tapi, aku tetap ingin kita bertemu di cafe tempat pertama kita bertemu dan tempat dimana kamu memintaku untuk menjadi kekasihmu 2 bulan yang lalu”
Lalu tut....tut....tut.....Dinda langsung memutuskan perbincangan kami. Baru kali ini dia melakukan hal itu, dan baru kali ini aku melihatnya dia marah ketika dengan tak sengaja aku menyebut nama itu lagi, ya Nana.
Aku merasa sangat bersalah pada Dinda pagi ini. Aku terus berusaha untuk menghubunginya agar dia mau memaafkanku. Segala bentuk pesan rayuan telah aku kirimkan, namun tak ada hasilnya. Mungkin dia memang benar-benar marah padaku atau sudah mencapai puncak kekecewaannya padaku. Aku terus menunggu jawaban darinya, berharap dia memaafkanku namun pesan balasan yang ku dapatkan tidak sesuai dengan harapanku.
From : Dinda
Kamu tidak perlu meminta maaf, karena kamu sudah sering melakukan hal itu dan aku selalu memaafkanmu. Jangan khawatir aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu melakukan hal ituJ
Aku merasa semakin larut dalam rasa bersalah dan cepat-cepat aku membalasnya.
To: Dinda
Dinda sayang, kali ini aku sangat menyesal dan aku berjanji hal ini tak akan lagi terulang. Aku hanya ingin kamu sayangku. Aku hanya butuh waktu untuk membiasakan diri.

From : Dinda
Temui saja aku nanti jam 8 malam.
Jawaban itu membuatku tak lagi bisa berkata. Aku merasa dia sudah sangat kecewa padaku. Aku langsung bergegas menuju kamar mandi dan bersiap mencari sesuatu untuk ku berikan pada Dinda malam ini.
Malam ini aku sengaja datang 1jam lebih awal, dengan maksud agar Dinda melihat bahwa aku benar-benar menyesal. Aku juga telah mempersiapkan kejutan kecil yang telah ku titipkan pada pelayan untuk diberikan kepada Dinda ketika ia datang. Cincin permata, akan menjadi bukti bahwa aku serius mencintainya dan aku menyesal atas apa yang telah aku lakukan pagi tadi.
Dinda akhirnya datang tepat jam 8. Ia mengenakan dress putih tulang yang membuatnya terlihat begitu elegant. Aku menarik kursi untuknya dan dia membalaskan senyumnya.
“Dinda aku ingin bicara”
“Boleh kah aku yang bicara terlebih dahulu?” aku mengangguk tanda setuju.
“Aku berfikir bahwa hari ini akan menjadi hari yang berkesan untuk kita. Aku telah merancang semuanya, hal yang akan kita lakukan untuk merayakan hari jadi kita. Namun, aku tak menyangka pagi ini kau melakukannya lagi sayang” dia terseyum, namun bukan senyum bahagia. Senyumnya diiringi air mata yang menandakan bahwa ia benar-benar kecewa.
“Dinda sayang.........”
“Aku belum selesai berbicara. Aku merasa aku memang sudah tak bisa lagi menjadi yang teristimewa. Kesabaranku selama ini hanya sia-sia. Perasaanku hanya seperti sampah”
Deg.
“Ingatkan kamu tempat ini? Tanggal ini? Jam ini?” aku mengangguk.
“Disini, di tanggal ini, dan di jam ini kamu memintaku untuk menjadi kekasihmu. Namun sekarang di tempat dan waktu yang sama aku meminta kita untuk mengakhiri semuanya”
“Tapi, Dinda...........”
Dinda pergi. Tidak memberi sedikitpun kesempatan kepadaku bahkan untuk memanggilnya sekali lagi. Raut kecewa dan sedih benar-benar terpancar dari paras cantiknya. Aku sangat menyesal. Dinda pun sudah tak bisa ku kejar.
Aku mengambil lagi cincin permata itu, dan memandangnya sejenak. Cincin ini adalah sebuah kenangan ketika aku kehilangan orang yang sangat menyayangiku tetapi aku menyiakannya.
Aku tersadar akan suatu hal. Bahwa, ketika kita terus mencari atau mengejar yang selalu kita harapkan maupun kita impikan, kita akan kehilangan yang terbaik.